Begitu melihat Su’eng, Mas Berto terlihat lemas. Ternyata Su’eng tak seburuk yg kubaygkan, memang matanya terkesan liar dan seakan mau melahap seluruh badanku, tetapi sikapnya dan perlaquannya kepadaqu tetap tenang, sehingga dikit demi sedikit rasa grogi yg menyerangku mulai memudar.Su’eng menanyakan dgn lembut, aqu ingin minum apa. Bokeb Dalem hati aqu berdoa supaya Mas Berto cepat pulang ke rumah, sehingga aqu tak perlu berlama-lama menemuinya.Untung saja tak lama kemudian Mas Berto pulang. Dia tahu pasti Su’eng akan menagih hutang-hutangnya itu. Mas Berto mengerti keterkejutanku.“Aqu sudah tak tahu lagi dgn apalagi aqu harus membayar hutang-hutangku, dia sudah mengancam akan menagih lewat tukang-tukang pukulnya jika aqu tak bisa membayarnya sampai akhir pekan ini”, katanya lirih.Aqu cuma terdiam tak mampu mengomentari perkataannya itu.




















