Saya anak semata wayang, sekelüarga petani penggarap yang tak berpünya. Film Porno Saya waktu itu cuma kenal beliau sebagai ‘Juragan’. Rasanya panas dingin, kalang kabut, merinding! Sekali-sekali, kalau Juragan minta, saya akan kenakan lagi kemben merah dan batik, sanggul dan kembang, bedak tebal dan gincu merah, untuk kemudian melayani Juragan di ranjang. Merinding bulu kuduk saya membayangkan apa maksudnya itu.“Kalau kamu mau, Denok, aku lunasi tagihan kontrakanmu yang dua bulan itu sekalian mbayar untuk bulan depan,” bisik Juragan lagi.Duh, biyung, saya mesti gimana? Juragan udah… jangan! Atau kamu jualan aja.”“Saya sekarang juga lagi kerja, Juragan,” saya jengkel tapi tidak berani menunjukkan; sepertinya Juragan tidak mau meminjamkan uang. Aiih!! Juragan ternyata tinggal sendirian. Sambil mencium, anunya dia masukkan lagi ke memek saya.Saya njerit lagi, tapi mulut saya ketutupan mulutnya.




















