Hah..? Bokeplive Atau jangan-jangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya pura-pura masuk. Jari tangan mulai dingin. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Sekenanya saja kubuka halaman majalah.“Tunggu ya..!” ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima kedatanganku.“Mbak Wien.., udah ada pasien tuh,” ujarnya dari ruang sebelah. Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Hidungnya tidak mancung tetapi juga tidak pesek. Pasti terburu-buru. Ayo..!Aku masih diam saja. Pintu salon kubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Hidungnya tidak mancung tetapi juga tidak pesek. Lho, salon kan tempat umum.




















