Ketika pulang dia mengantarkan aku pulang, sebelum aku turun dari mobil, pipiku dikecupnya, “Kapan-kapan kita ketemuan lagi ya Din, ni nomer hpku”. Dia memegang pinggulku, dan ditariknya kearahnya kontolnya masuk makin ke dalam, Aku terus menangis terisak-isak kesakitan, sementara dia sendiri malah merem melek keenakan. Bokeb Dia menggelinjang nikmat.“Aagghh… Din… terus sayang…” bisiknya mesra. Kami bertukaran no hp. Aku memekik kecil dan mengeluh lirih, kupejamkan mataku rapat-rapat, sementara wajahku nampak sedikit berkeringat. Aku masih terduduk di atas sofa dan begitu melihatnya keluar berlari tanpa pakai celana jadi terkejut lagi melihat kontolnya yang sedang tegang bergerak manggut-manggut naik turun.“Aawww…” teriakku kembali sembari menutup mukaku dengan kedua jemari tanganku.“Iiihh… Din… takut apa sih, kok mukanya ditutup begitu”, tanyanya geli.“Itu Mas, kontol Mas”, sahutku lirih.“Lhoo… katanya sudah sering nonton BF kok masih takut,




















