Paling-paling ia hanya menepis tanganku sambil matanya jelalatan khawatir ada orang yang melihatnya. “Oh ya.., sini Sari rapiin”. Bokeb Aman. Kembali kami bergumul. Singkatnya, Sari bersedia kuajak “jalan-jalan” setelah jam kerjanya, pukul 5 sore. Gelap dan sepi. “Uuhh” Sari melepaskan kulumannya, “Crot..”, kedua dan seterusnya ke celana dan perutku. Ada untungnya juga jalanan macet. Rambut kelaminnya yang tak begitu lebat itu kuusap-usap. Hampir.., hampir.., dan “Creett”, Kusemprotkan maniku ke dalam mulut Sari. Sari memang pintar berimprovisasi. Di depan terlihat 2 orang pejalan kaki menuju ke arah kami. Kuminta Sari melepas kulumannya, banyak orang lalu-lalang. Diapun mengulum sambil was-was.





