“Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Bokeb Mbak Wien sudah turun. Aku perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Badannya berbalik lalu melangkah. Ia membuncah ketika aku melumat klitorisnya. Ia menyenggol kepala juniorku. Lalu menyentuh Junior dengan sisi luar jari tangannya. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Aku makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Ke mana ia? Ia masih dingin tanpa ekspresi. Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Haruskah kujawab sapaan itu? Ya tidak apa-apa, hitung-hitung olahraga. Ia tidak bercerita apa-apa. Ah bodoh. Atau apalah? Ah sial. Wanita setengah baya itu merenggangkan bibirnya, ia terengah-engah, ia menikmati dengan mata terpejam.“Mbak Wien telepon..,” suara wanita muda dari ruang sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon.“Ngapaian




















