Tempat ini memang biasa macet. Bokep Mama “Hee.., stop.., stop Mas..”, serunya. Okey, mendadak aku ada ide untuk melepaskan ketegangan selepas-lepasnya tanpa terpecah konsentrasi. “Jangan khawatir.., aman”, kataku. “Mau minum susu? “Sampai di mana nih?”, tanyanya terengah. Tak bisa, terlalu malam kena marah mamanya, katanya. Tak ada penolakan. Kali ini gerakan kepalanya memang cepat. “Dicepetin.., Sar..”. Kutarik kepala Sari begitu ia membungkuk akan merapikan celanaku. Engga.., ah. “Yuk.., Mas.., turun”. Aku yang makin penasaran ingin menidurinya. Matakupun jelalatan memperhatikan sekeliling. entar ada orang”. Aku mengalah, toh masih banyak kesempatan. Akhirnya aku membayar belanjaan Sari. Iseng mengantre, kuambil tangan Sari ke penisku yang masih belum “kusimpan”, Sari menggosoknya. Sari makin cepat. Paling-paling ia hanya menepis tanganku sambil matanya jelalatan khawatir ada orang yang melihatnya.




















